Berita

Strategi Pembinaan Generasi Muda Bebas HIV atau AIDS

Masalah infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan permasalahan kesehatan yang hampir dialami seluruh negara di belahan dunia (global health problems) sehingga dibutuhkan upaya-upaya yang strategis dalam penanggulanganya. Pohan (2006) menyatakan bahwa tingkat mortalitas akibat infeksi HIV menduduki peringkat kedua terbesar di dunia. Hal ini memicu WHO untuk mencanangkan HIV/AIDS sebagai epidemic emergence. Tidak hanya di dunia, HIV/AIDS menjadi masalah utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan MDG’s nomor enam, infeksi HIV menduduki urutan paling atas yang menyebabkan penyakit yang dikenal dengan Acquired Immune Deficiency Syndrom (AIDS). Penyakit ini dapat menimbulkan dampak kehancuran, bukan hanya terhadap kesehatan masyarakat namun juga terhadap negara secara keseluruhan. Terlebih lagi, beberapa tahun terakhir infeksi HIV mulai merebak di kalangan generasi muda terutama usia remaja. Berdasarkan Ditjen PPM & PL, total kasus HIV/AIDS di Indonesia yang dilaporkan pada 1 Januari- 30 Juni 2012 45 persen di antaranya diidap oleh generasi muda berusia 10- 29 tahun. Secara empiris, infeksi HIV di kalangan remaja berpengaruh terhadap kualitas hidup remaja itu sendiri dan diketahui berkaitan erat dengan faktor perilaku (Kemenkes RI, 2012). Perilaku hubungan seksual yang tidak aman dan penggunaan narkoba suntik merupakan faktor risiko yang telah melekat dengan kehidupan remaja. Hal ini disebabkan oleh adanya perkembangan dan perubahan hormonal/fisik dan mental yang belum berkembang sepenuhnya sehingga muncul rasa ingin tahu yang berlebihan, cepat bosan dengan hal-hal rutin, menikmati kegiatan kelompok sebaya, dan cenderung mengikuti pola tingkah laku teman sebayanya yang terkadang dapat mengarahkan mereka ke dalam perilaku yang berisiko. Kurangnya informasi dan pembinaan pada kala-ngan MEDIA RS PARU I EDISI I TAHUN X 2015 19 remaja berdampak terhadap rendahnya pengetahuan mereka tentang HIV dan AIDS yang dapat menimbulkan paradigma negatif yakni diskriminasi dan stigma serta perilaku berisiko (Notoadmodjo, 2006). Selain itu, saat ini program promosi dan preventif kesehatan terkait HIV/AIDS dan Kesehatan reproduksi masih terkonsentrasi pada remaja sekolah, sedangkan remaja tidak sekolah seperti anak jalanan tidak tersentuh dengan baik. Padahal remaja tidak sekolah terutama anak jalanan merupakan kelompok paling rentan terhadap berbagai ancaman kesehatan seksual dan reproduksi termasuk ancaman PMS dan HIV/AIDS. Sehingga pembinaan terhadap anak jalanan membutuhkan usaha besar dan khusus serta kerjasama dari berbagai bidang, baik bidang kesehatan maupun sosial.