Berita

Terapi Oksigen Hyperbarik Meningkatkan Kecerdasan Anak

Penggunaan hyperbaric oxygen therapy ( HBOT ) telah digunakan di banyak negara. banyak testimoni dari keluarga yang menggunakan HBOT dengan hasil menggembirakan. Banyak pula jurnal dari luar negeri yang menyokong HBOT untuk meningkatkan kecerdasan anak. Selain itu pula, HBOT bisa mengurangi inflamasi atau pembengkakan otak. Ada banyak teori mengenai terjadinya gangguan peredaran darah yang abnormal ke otak, sakit panas tinggi, kerusakan otak, reaksi ke vaksin dan kekurangan oxigen sebelum, ketika dan sesudah proses kelahiran adalah salah satu penyebabnya.
Hiperbarik Oksigen Terapi (HBOT) adalah terapi medis pemberian oksigen murni kepada pasien yang berada di dalam ruangan bertekanan tinggi dengan tujuan meningkatkan konsentrasi oksigen di dalam darah. Sesuai prinsip dasar fisika bahwa jika kita menghirup oksigen murni dalam ruangan bertekanan tinggi akan meningkatkan kelarutan oksigen dalam darah plasma dan jaringan tubuh kita sehingga merangsang pembentukan sel-sel dan jaringan baru pada tubuh kita lebih cepat. Sehingga dengan terapi oksigen inilah kerusakan pada otak bisa diminimalisasi.
Pada kondisi normal, oksigen yang dihirup dari udara pernapasan dibawa sel-sel darah erah menuju ke seluruh tubuh. Tetapi pada terapi hiperbarik, dengan tekanan udara tinggi, oksigen didorong masuk ke setiap sel tubuh melalui seluruh cairan tubuh, termasuk cairan plasma, getah bening dan cairan otak. Cairan otak tersebut adalah cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang. Dengan demikian, setiap sel otak akan mendapat aliran oksigen lebih besar daripada dalam kondisi normal. Aliran oksigen ke sel-sel otak itulah yang dapat memperbaiki fungsi otak sehingga sel- sel otak yang rusak akibat kurangnya oksigen di otak bisa diperbaiki. Di lain pihak, terapi ini juga bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan sel darah putih untuk melawan infeksi, meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit, membentuk pembuluh darah kapiler baru, membunuh kumankuman anaerob dalam usus, dan membantu setiap organ dalam tubuh berfungsi dengan lebih baik.
Terapi HBO pertama kali diperkenalkan pada tahun 1662 oleh seorang pria Inggris bernama Henshaw untuk membantu fungsi pencernaan dan pernafasan saja. HBO merupakan terapi dengan menggunakan oksigen bertekanan diatas 1 Atmosfir Absolute (ATA) yang dilakukan dalam sebuah media berupa Ruang Udara Bertekanan Tinggi (RUBT). yaitu dimana pasien masuk dalam sebuah RUBT (kamar bertekanan 1,3 - 1,5 ATA dengan kadar oksigen antara 40-90% yang sangat aman dan tergolong sebagai mild HBO/HBO ringan)
Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti mengembangkan terapi oksigen hiperbarik untuk mengatasi masalah kecerdasan pada anak. Kata dr. Melly Budiman, terapi oksigen hiperbarik sangat cocok diterapkan kepada anak yang memiliki indikasi kekurangan oksigen. “Misalnya anak dengan riwayat semasa dalam kandungan terlilit tali pusar hingga denyut jantungnya melemah, tertahan lama di jalan lahir, lahir dengan tubuh kebiruan dan tidak langsung menangis.
HBOT sendiri sebenarnya bukanlah merupakan hal yang baru dalam dunia kedokteran Indonesia, dimana pertama kali dimulai di fasilitas militer RS Angkatan Laut di RSAL Mintohardjo (Jakarta) dan di RSAL Surabaya untuk menunjang operasional para penyelamnya. Seiring dengan perkembangan riset HBOT di dunia internasional maupun nasional, Terapi Oksigen Hiperbarik (HBO) bisa menjadi “angin segar” bagi orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus.
Kini Terapi Oksigen Hiperbarik juga hadir di Jember sejak tahun 2011 yaitu di RS PARU JEMBER dengan alamat Jln. Nusa Indah No 28 Kreyongan Jember, dengan alat yang lebih canggih dan modern. Di RS PARU JEMBER tersedia 2 RUBT yaitu monochamber (RUBT yang hanya menampung 1 orang pasien dalam satu kali terapi) dan ultichamber (RUBT yang bisa menampung 9 orang pasien sekaligus dalam sekali terapi. Biasanya, sebelum menjalani terapi ini, pasien harus menjalani pemeriksaan awal terlebih dahulu. Mereka yang tengah demam, batuk, pilek, sinusitis, sakit telinga, kejang, memiliki penyakit jantung/paru dan kanker dilarang melakukan terapi. Dengan kata lain, tidak semua pasien bisa memanfaatkan terapi HBO. Jika hal tersebut dilanggar maka dapat menyebabkan komplikasi seperti rasa nyeri, ada rongga sinus/telinga/ dada, kejang dan penyakit dekompresi.
Menurut dr. Ni Putu Sudewi, SpA, komplikasi seperti yang disebutkan tadi dapat dihindari selama dilakukan dengan persiapan yang baik, dosis tekanan dan kadar oksigen yang aman serta teknik pengoperasian alat yang sesuai dengan standar operasional. Biasanya, terapi oksigen hiperbarik dilakukan berulang secara rutin. Lama terapi pada setiap sesi biasanya sekitar 1 jam. Namun, sebelum menjalani terapi ini, kata dr Melly, penderita harus menjalani pemeriksaan awal terlebih dulu. ‘’Sejauh ini, banyak orang tua pasien yang cukup puas dengan perbaikan yang dialami anaknya setelah mendapat terapi ini.’’
HBOT sendiri sudah diakui secara internasional maupun nasional sebagai salah satu cabang dari dunia kedokteran barat, dan bukanlah masuk klasifikasi terapi alternatif seperti terapi ozone dan lain sebagainya.